Gak banyak yang bakalan gua posting kali ini. Gua cuma lagi kangen aja ma blog gua. Dah lama gak ngopenin dia.
Kembali Lagi
Gak banyak yang bakalan gua posting kali ini. Gua cuma lagi kangen aja ma blog gua. Dah lama gak ngopenin dia.
Kehidupan ini penuh dengan masalah baik masalah bersama maupun pribadi. Setiap orang mencari penyelesaian masalah dengan berbagai cara. Namun masalah tetap tinggal sebagai masalah dan tidak ada jawaban. Adakah jalan yang mampu menghantar kita bebas dari masalah sehari-hari? Mungkinkan menjalani kehidupan tanpa masalah sedikitpun?
Pikiran yang mencari Solusi Masalah adalah Masalahnya
Kita sudah terbiasa menggunakan pikiran untuk menghadapi masalah. Ketika masalah datang, kita menganalisa, membanding-bandingkan, mencari sebab-musabnya, menilai, dan menarik kesimpulan. Kenyataannya, jawaban intelek terhadap masalah tidak menyelesaikan masalah. Meskipun kita canggih secara intelektual, kita menyaksikan tiada hari tanpa deraan masalah. Hidup harian menjadi kisah perjuangan yang melelahkan dan tak bermakna kecuali hanya untuk bertahan hidup.
Orang bisa berganti-ganti ideologi atau agama, tetapi masalah tetap ada. Orang bisa memperbanyak doa, merenungkan Kitab Suci, menjalani ritual dan laku amal, namun masalah tetap bercokol. Orang lari kepada guru-guru spiritual atau dukun dan berpikir mereka bisa melenyapkan masalah. Selama semua itu hanya menjadi pelarian dari fakta-fakta kehidupan, bebasnya diri dari masalah hanya tinggal sebagai impian kosong.
Sistem pemikiran apapun tidak mampu menuntaskan masalah, namun orang terus menggunakan pikiran untuk memecahkan masalah. Pikiran buruk yang datang biasanya dilawan dengan pikiran yang baik. Orang suka menghafal dan mengingat-ingat teori-teori tertentu, nasehat-nasehat bijak, teks-teks suci atau rumus-rumus doa tertentu. Namun itu semua tidak membuat orang bebas dari masalah.
Orang tahu bahwa menyakiti orang lain itu jahat, namun orang tetap saja melakukannya. Orang tahu mencuri itu tindakan yang buruk, namun orang tidak berhenti mencuri. Orang tahu kegelisahan dan kekawatiran itu tidak ada gunanya, tetapi pengetahuan itu tidak mampu mengenyahkan kekhawatiran dan kegelisahan. Pengetahuan atau pikiran yang baik barangkali bisa mengurangi beban yang ditimbulkan oleh masalah, namun tidak mempunyai kekuatan untuk menghabisi akar masalahnya.
Masalah muncul karena adanya gerak pikiran. Pikiran sebaik apapun juga tidak akan membebaskan diri dari masalah karena gerak pikiran adalah akar masalahnya. Di sana ada ketakutan terhadap fakta kehidupan, keserakahan, pengejaran, keakuan, harapan, keinginan atau ambisi, pelarian, dst. Semua itu adalah gerak pikiran yang adalah gerak keakuan itu sendiri. Jadi pengetahuan atau pikiran secanggih apapun tidak akan mampu memberi solusi masalah dan gerak mencari solusi masalah menciptakan masalah baru.
Upaya untuk keluar dari masalah dengan cara apapun menimbulkan masalah baru. Alih-alih mencari solusi masalah, lebih bermakna memahami masalahnya apa adanya. Lebih membantu membongkar setiap pertanyaan dan menyelidikinya tanpa ambisi mencari jawaban atas masalah.
Jawaban atas Masalah sudah Ada dalam Masalahnya
Untuk memahami masalah, mutlak perlu mengenal diri karena diri adalah akar segala masalah. Apa yang disebut diri? Diri adalah akumulasi dari pengetahuan, pengalaman, pikiran, perasaan, rekasi-reaksi batin, kesadaran, kenikmatan, kesenangan, kepahitan, ketakutan, kegelisahan, kemalasan, keragu-raguan, rasa memiliki, ketakutan, kemelekatan, pelarian, dst. Selama diri ada, di sana ada masalah. Setiap gerak batin adalah bagian dari keakuan dan itu adalah akar masalahnya. Kalau diri berakhir, maka masalah juga akan berakhir dengan sendirinya. Dan tidak ada jalan untuk membiarkan diri ini berakhir kecuali lewat pengamatan terhadap gerak diri terus-menerus apa adanya.
Diri kita ini terkondisi. Semua pikiran untuk memahami keterkondisian ini selalu tidak lengkap karena pikiran tidak berbeda dari diri yang terkondisi. Pikiran baik tidak mampu menghabisi kelekatan diri terhadap keburukan atau kebaikan. Upaya untuk tidak melekat pada sesuatu adalah gerak yang sama untuk melekat pada sesuatu yang lain. Gerak keakuan yang mengingini dan mengejar sesuatu masih tetap ada.
Kita selalu berfungsi di dalam lingkup batin yang terkondisi. Namun pengamatan atau kesadaran terus-menerus atas keterkondisian kita membuat kita bebas. Kesadaran murni membuat masalah yang akarnya adalah diri ini berhenti. Dalam beberapa detik atau menit, kita mengalami kebebasan. Di sana tidak ada lagi keakuan, kelekatan, keinginan, dst. Setelah itu gerak pikiran datang lagi. Kalau kita sadari saat itu pula, maka pikiran berhenti. Begitulah kita mengalami kebebasaan sesaat yang disusul oleh gerak pikiran; ketika pikiran disadari pada saat kemunculannya, pikiran berhenti. Demikian proses ini terus berlanjut.
Pikiran kita ini licin bagaikan belut dan cerdik bagaikan ular. Ia mudah membawa kita berlari dari fakta-fakta kehidupan. Kesedihan, luka, kenikmatan, kepahitan, dst bukanlah masalah melainkan fakta kehidupan yang kita kenal. Saat pikiran bergerak untuk mendorong kita menolak atau menerima, melekat atau lari daripadanya, fakta kehidupan itu berubah menjadi masalah. Pikiran menciptakan masalah dan dengan pikiran yang sama kita mencari penyelesaian masalah.
Rumahku Surgaku. Itulah harapan sebuah pernikahan. Memang, tidak mudah untuk mewujudkan harapan tersebut, bisa-bisa rumahku menjadi nerakaku. Dibutuhkan kerjasama yang harmonis diantara suami dan istri ketika mengarungi bahtera pernikahan. Selain itu, dibutuhkan pemahaman mengenai cara memelihara pernikahan agar tetap harmonis dan tahan terhadap badai ujian. Berikut penjelasan praktis dan padat karya Syekh Umar Bakri Muhammad "Nasihat Indah Untuk Suami Istri" yang diterbitkan oleh Cakrawala Publishing.
Rasulullah SAW bersabda :
“ Yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik (perlakuannya) terhadap istri-istrinya dan aku adalah yang terbaik di antara kalian terhadap istri-istriku.”
Rasullullah SAW juga bersabda :
“ Tidak ada yang memuliakan wanita dengan sejati kecuali laki-laki yang pemurah (dermawan) dan tak seorangpun yang menghina mereka (wanita) kecuali laki-laki yang kasar.”
Tugas-tugas seorang suami kepada istrinya :
1.Hendaklah Anda selalu memperlihatkan wajah yang menyenangkan ketika masuk ke rumah, ucapkan salam Islam “assalaamu’alaikum” dengan senyuman yang manis, raih tangannya dan peluklah istri Anda dengan mesra.
2.Ketika berbicara, untaikan kalimat yang manis serta memikat istri Anda. Usahakan istri Anda merasa benar-benar diperhatikan dan menjadikannya wanita paling khusus untuk Anda. Untaian kalimat yang disampaikan kepadanya hendaknya jelas (ulangi jika perlu) dan panggillah istri Anda dengan sebutan yang dia sukai seperti ; manisku, sayangku, cintaku dan lain sebagainya.
3.Meskipun Anda mempunyai beban kerja yang banyak, luangkanlah waktu untuk beramah tamah dan bercengkerama dengan istri Anda. Hal ini juga dilakukan oleh Rasulullah SAW dimana beliau juga beramah tamah dan menghabiskan waktu bersama para istri beliau, meskipun pada saat itu beliau juga penuh dengan pekerjaan serta beban tanggung jawab yang sangat besar.
4.Mainkanlah suatu permainan ataupun selingan yang menggembirakan bersama istri Anda. Hal ini dinyatakan dalam suatu hadist bahwa Rasullah SAW bersabda :
“ Semua hal yang di dalamnya tidak menyebut nama Allah SWT, adalah suatu kesia-siaan, kecuali dalam empat hal : seorang laki-laki yang sedang bermain dengan istrinya, melatih kuda, membidik di antara dua sasaran, serta mengajarkan berenang.”
5.Membantu pekerjaan sehari-hari rumah tangga. Usahakan Anda membantu dan menolong istri Anda dengan tugas-tugas keseharian rumah tangga Anda, seperti membeli makanan, mempersiapkan makanan, membersihkan serta mengatur rumah, dan lain sebagainya. Hal-hal seperti ini akan membawa kebahagiaan tersendiri pada diri istri Anda dan tentu saja akan semakin memperkuat cinta Anda dan hubungan Anda bersama sang Istri.
6.Usahakan musyawarah selalu menghiasi rumah tangga Anda. Bermusyawarahlah dengan istri Anda, dalam setiap permasalahan. Pendapat yang di sampaikan Ummu Salamah kepada Rasulullah SAW pada saat perjanjian Hudaibiyyah adalah suatu kejadian yang sangat terkenal. Hal ini merupakan cara yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW untuk bermusyawarah dengan para istri dan para sahabat beliau.
7.Ketika Istri Anda sedang berkunjung ke tempat saudaranya, teman-temannya, serta orang-orang saleh, maka temanilah istri Anda.
8.Tata cara melakukan perjalanan dan meninggalkan istri di rumah. Jika Anda tidak bisa membawa serta istri Anda dalam perjalanan, maka ucapkanlah selamat tinggal dengan penuh rasa sayang, bekalilah istri Anda dengan persediaan kebutuhan sehari-hari dan uang secukupnya, mintalah istri Anda untuk mendo’akan Anda, sering-seringlah untuk menghubungi istri Anda. Jangan lupa untuk meminta pertolongan kepada orang yang Anda percayai untuk menjaga keluarga Anda selama Anda bepergian. Persingkat perjalanan Anda jika dirasa sudah tidak penting lagi dan pulanglah dengan membawa oleh-oleh. Hindari untuk pulang pada malam hari atau pada saat-saat yang tidak diharapkan.
9.Dukungan keuangan. Tumbuhkanlah sikap dermawan pada diri Anda (tidak pelit) dalam urusan pengeluaran rumah tangga Anda, tentunya harus sesuai dengan kemampuan keuangan Anda. Dukungan keuangan yang baik (tidak boros tentunya) akan sangat berguna untuk memelihara kestabilan perkawinan Anda.
10.Buatlah diri Anda agar selalu berbau harum dan perindah penampilan Anda . Allah SWT itu indah dan Dia menyukai keindahan. Maka selalu bersihlah Anda, rapi, dan pakailah parfum. Ibnu Abbas r.a. berkata :
“ saya menyukai keindahan diri saya sendiri untuk istri saya, seperti halnya saya menyukai keindahan istri saya untuk saya.”
11.Tentang hubungan seksual. Merupakan tugas dari suami untuk mencukupi kebutuhan serta hasrat seksual sang istri. Bisa jadi sekali waktu istri Anda sedang berada dalam masa yang sangat prima berkenaan dengan kesehatan fisik dan psikologisnya.
12.Penuh perhatian. Seorang suami muslim harus sangat perhatian dan penuh perasaan terhadap istrinya. Istri Anda pasti mengalami dan melewati bermacam-macam perubahan baik secara fisik dan psikologis. Pada saat-saat seperti itu, istri Anda sangat memerlukan suatu perlakuan yang mesra dan penuh perhatian, agar istri Anda bisa menghapus kesusahan dan kesedihan yang sedang dialaminya, serta menenangkan perasaannya yang mudah tersentuh.
13.Jagalah kerahasiaan perkawinan Anda. Diriwayatkan dalam sebuah hadist oleh Abu Sa’id Al-Khudry bahwa Rasulullah SAW bersabda :
“ Sungguh di antara orang yang paling buruk di hadapan Allah SWT pada saat hari kebangkitan adalah laki-laki yang mendatangi istrinya untuk melakukan hubungan badan, dan dia membeberkan rahasia itu (tentang hubungan badan) kepada yang lain.”
14.Bekerja sama dalam melakukan ibadah kepada Allah SWT, sholat berjama’ah dan selalu tingkatkan aktifitas Anda dalam beribadah kepada Allah SWT, seperti bersedekah, dzikir (mengingat Allah SWT), dan sholat pada malam hari (qiyamul lail). Rasulullah SAW bersabda :
“ Semoga rahmat Allah SWT dilimpahkan kepada laki-laki yang bangun pada malam hari dan membangunkan istrinya untuk sholat bersamanya, dan jika dia menolak maka percikkan air ke wajahnya”.
15.Selalu menunjukkan rasa hormat kepada keluarga dan teman istri Anda.
16.Usahakan untuk mendidik istri Anda tentang islam dan berilah istri Anda nasehat-nasehat.
17.Cemburu yang sewajarnya.
18.Bersabar dan berlaku lembutlah kepada istri Anda. Kendalikan amarah Anda dan buatlah sang istri untuk menghilangkan keragu-raguannya terhadap Anda, dan nasehatilah dia ketika melakukan suatu kesalahan.
19.Jadilah pema’af dan tegurlah istri Anda dengan cara yang baik dan sampaikan pada saat yang benar-benar tepat.
20.Jadilah seorang suami muslim yang sejati, dan terapkan semua yang pernah dibaca dan dipahami tentang Islam, dengan arif dan bijaksana.
[forum.dudung.net]
Tak ada yang menyangkal bahwa hidup di dunia ini hambar rasanya tanpa cinta, tanpa seks dan tanpa ketertarikan terhadap sesuatu yang indah, cantik dan menawan hati. Begitulah Allah menganugerahkan fitrah tersebut dalam diri setiap kita sehingga kita bisa merasakan bagaimana nafsu merasuk, benih-benih cinta tumbuh perlahan dan getar asmara meliputi jiwa. Berbahagialah Anda yang bisa menikmati semua itu. Sebagai pertanda bahwa Anda lelaki normal adalah ketika Anda bisa merasakan indahnya kehidupan melalui fitrah yang Allah berikan, untuk selanjutnya disalurkan dengan cara yang benar; membangun dan melanjutkan proses kehidupan sebagai manusia untuk memakmurkan bumi ini.
Bila kebutuhan terhadap seks adalah fitrah, maka ia pun harus dijaga agar tetap fitri (bersih), tidak disalahgunakan dan disalurkan dengan cara yang tidak sesuai dengan syariat (aturan)-Nya. Karena itu Allah turunkan Al-Qur’an sebagai aturan dan sistim hidup, serta mengutus Rasul-Nya untuk menjelaskan kandungannya, lalu mengejawantah dalam prilaku keseharian beliau yang selanjutnya kita kenal sebagai sunnahnya. Inilah dua pedoman hidup setiap muslim agar senantiasa berada di atas jalan yang benar dan lurus, termasuk bagaimana mengelola dan menyalurkan kebutuhan seksualnya. Sabda beliau, “Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegangan pada keduanya, yaitu Kitabullah (Al Qur’an) dan sunnah Rasulullah Saw.“ (HR. Muslim)
Naluri seksual manusia harus dibingkai dalam sebuah aturan agar tidak menyimpang hingga membuatnya menjadi lebih rendah daripada binatang. Maka ketika Allah memberikan potensi berupa akal, telinga dan mata untuk melihat kebenaran lalu abai dan enggan mengikutinya, maka itulah saat dimana kita telah memposisikan diri kita lebih rendah daripada binatang yang tiada berakal. âہ“Mereka (manusia) punya hati, tetapi tidak digunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka punya mata (tetapi) tidak untuk melihat (kebenaran), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak digunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu laksana binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. al-Ã’raf: 179).
Moralitas membuat kita berbeda dengan binatang ternak, yang bagi binatang ternak sendiri hidup adalah kebebasan. Mereka tak butuh aturan yang harus menata pola hidup mereka. Tetapi alur hidup manusia terkontrol oleh aturan tata nilai kebenaran, yang secara fitrah dipancarkan oleh hati nurani dan akal fikiran. Dengan itu kita dapat mengendalikan tarikan instink biologis kebinatangan yang ada dalam diri. Membuat kita hidup teratur saat berada dalam bingkai dan norma-norma yang benar.
Allah lalu memperingatkan kita dengan firman-Nya, “Janganlah kalian mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan jalan yang paling buruk.” (QS. Al-Isra:32) Kita telah merasakan betapa perbuatan keji; perzinahan yang dibungkus dengan kalimat lebih halus; perselingkuhan, telah menciptakan berbagai jenis kerusakan; runtuhnya sebuah rumah tangga hingga terjadinya pembunuhan. Maraknya perzinahan atau perselingkuhan, penyimpangan orientasi seksual dengan menyukai sesama jenis adalah prilaku yang tidak hanya menciptakan penyakit fisik, tapi juga penyakit sosial, mental dan moral di tengah masyarakat.
Ketika Allah ciptakan pada diri kita insting biologis dan naluri seksual, maka penyalurannya yang benar melalui proses pernikahan. Rasulullah saw. bersabda, “Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah sanggup memikul beban. Hendaklah ia segera menikah, karena hal itu dapat menundukan pandangan dan menjaga kehormatan. Sebaliknya siapa saja yang belum mampu, hendaklah ia shaum karena hal itu dapat menjadi perisai.” (Muttafaq ‘Alaihi) Jalur resmi dan sah itu adalah menikah bila merasa diri telah sanggup memberi nafkah untuk istri. Bila belum mampu, maka ada cara mengendalikan nafsu seksual, yaitu berpuasa. Inilah wadah dan bingkai yang benar itu.
Walau demikian, menikah bukan hanya sebagai wadah yang sah untuk menyalurkan kebutuhan biologis. Tetapi juga untuk merasakan ketenangan dan kedamaian dengan kehadiran seorang istri yang kita cintai, sebagai tempat berbagi, membangun keluarga dan untuk mendidik generasi baru. Karena itu pula Rasulullah saw. memberikan beberapa kriteria memilih calon pasangan hidup. Beliau bersabda, “Perempuan itu dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya, lalu pilihlah perempuan yang beragama niscaya kamu bahagia.” (Muttafaqun Alaihi)
Termasuk ke dalam kategori agama disini adalah teguh dalam beragama, baik budi pekertinya dan mulia akhlaknya, dan inilah sebaik-baik pilihan. Demikian pula bagi wanita hendaknya bersandar pada kriteria ini. Bersyukurlah bila pendamping Anda itu cantik, tampan, kaya raya dan berakhlak mulia. Itulah kenikmatan dunia. Maka Rasulullah saw. bersabda, “Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasannya adalah wanita yang baik (sholehah)!” (HR. Ibnu Majah)
Demikianlah Allah dan Rasul-Nya memberikan aturan hidup yang seharusnya membingkai kehidupan dan segala aktivitas kita agar tidak menyimpang hingga menimbulkan dampak keburukan yang tidak hanya menimpa kita, tapi juga orang-orang yang ada di sekitar kita. Demikian pula dalam pemenuhan insting biologis dan naluri seksual, bila dikelola dan disalurkan dengan cara yang benar sesuai tuntunan-Nya, maka betapa indah hidup ini; lahir dan batin. Wallahu a’lam.[edukasi.kompasiana.com]
Cinta, jiwa, dan kebebasan; ketiganya menjalin berbagai kisah dalam hidup kita. Siapa, apa, kapan, dan di mana itulah yang mengisi detail-detail dan memberi keragaman pada plotnya, namun temanya tetap tidak berubah.
Cinta, adalah yang kita inginkan dalam hidup dan yang pertama kali kita cari. Itulah hasrat kehidupan kita, yang menciptakan lautan di mana jiwa kita berenang. Seperti lautan, cinta mengasuh dan mendukung kita, tetapi ia pun menawarkan suatu tempat di mana kita akan membawa hidup kita.
Cinta menciptakan dunia-dunia yang akan dijelajahi oleh jiwa kita. Siapa dan apa yang kita cintai akan menyalurkan energi kita, mendorong kita mendekati orang ini atau itu, mengambil jalan ini atau itu. Dengan bimbingan cinta, kita berhubungan dengan dunia-dunia di sekeliling kita. Kita menciptakan tempat-tempat di mana kita menjadi bagiannya, di mana jiwa kita mendapatkan santapan berupa makna dan tujuan, serta di mana kita bersantai, bermain, serta bersenang-senang. Melalui kedekatan hubungan, kita jadi mengenal orang-orang lain dan diri kita sendiri dalam cermin cinta.
Cinta membawa jiwa kita ke dalam fokus.
Jiwa, adalah pusat pembimbing kita, alat penguji bagi apa yang kita rasa benar dalam hidup dan apa yang harus kita lakukan. Jiwa adalah alasan kita datang ke sini dan alasan kita tetap tinggal. Jiwa memberitahukan kita tentang kita-bukan seperti yang diinginkan, diharapkan, atau dibayangkan orang-orang lain, melainkan sebagai diri kita di dalam wujud kita yang paling tersembunyi. ketika kita berada di tengah kesedihan, kebingungan, atau keputusasaan, jiwa kitalah yang membawa kita ke sana dan mengetahui diri kita yang sebenarnya. Atau jika kita mengalami kegembiraan, jiwa kitalah yang mengangkat kita dengan pengetahuan yang lebih besar daripada kehidupan : “jadi, begitulah maksudnya !” Jiwa adalah intisari kita, esensi kita, landasan diri kita, meski kita sama sekali tidak yakin siapakah jiwa kita ini atau apa yang dipikirkannya untuk kita.
kebebasan, memberi jiwa kita dan cinta kita udara untuk bernafas. Seperti udara, kebebasan itu merupakan pemberian, setidak-tidaknya sepanjang menyangkut jiwa kita. Itu bukan diberikan atas permintaan kita oleh orang-orang, lembaga, atau pemerintah, sebab jika demikian maka mereka bisa menolak memberikannya.
Kebebasan adalah udara bagi kita, sebab ia memberi kita ruang yang kita butuhkan untuk mengikuti jiwa kita dan mengejar cinta kita. Tanpa kebebasan, jiwa kita tercekik. Dengan kebebasan, mereka tinggal landas; kita mencipta, bereksperimen, meraba-raba, dan belajar. kebebasan mengatakan bahwa apa saja mungkin dan bahwa kita berhak untuk menjelajahi berbagai kemungkinan ke mana pun jiwa dan cinta membawa kita. Kadang-kadang jiwa kita membawa kita jatuh dan kehilangan segalanya, penyakit yang mematikan, perceraian, kebangkrutan, atau skandal untuk menunjukkan betapa bebasnya kita lepas dari segala penampilan. Tanpa “resiko rugi apa pun” kita meninggalkan segala keharusan dan kewajiban dan mengejar impian kita.
Cinta, jiwa, dan kebebasan merupakan teman alamiah, yang bersama-sama menciptakan api di dalam pikiran, hati, dada, perut, atau di mana pun yang dapat membuat kita bahagia saat bangun di pagi hari. Dengan menyatu, cinta, jiwa, dan kebebasan menjadi daya yang mewujud, membimbing kita dan menuyusupkan makna dan tujuan ke dalam hidup kita, meski kehadiran mereka tidak bisa dilihat dengan jelas hingga kita mampu mengingat peristiwa yang telah terjadi.
"Bagaimana aku tidak jengkel" kata pria itu. "Letih setelah pulang dari kerja, setelah menghadapi tekanan di kantor, bukan hanya karena tumpukan persoalan namun juga akibat tekanan dari pimpinan dan teman sekerja, setelah menembus kemacetan lalu lintas yang menjengkelkan dan setelah sepanjang hari bergulat dengan berbagai macam masalah yang tak diketahuinya, kembali aku mesti mendengarkan celotehan dan keluhan yang bukan urusanku dan bukan karena aku...."
"Ah, dia tidak memahami aku" kata wanita itu. "Seharian aku mesti menghadapi berbagai macam rutinitas rumah tangga, anak-anak yang bandel, pembantu yang bodoh, tetangga yang usil tanpa tahu harus mengadu kemana. Maka kepada siapa lagi aku mengeluh selain kepada suamiku sendiri? Seharian aku harus berdiam diri, sabar menerima semuanya, padahal hati ini seakan mau meledak karena bosan dan jengkel. Tapi dia tak mau peduli. Dia tak mau mendengarkan kesulitanku...."
Seberapa seringkah kita mengalami hal yang demikian dalam kehidupan berumah tangga kita? Konflik terjadi, bukan karena ada persoalan, tetapi hanya karena kekurang-pahaman satu sama lain. Demikianlah, aku teringat hal itu, saat seorang teman yang saat sedang melakukan chat tiba-tiba harus melayani seorang pembeli. "Pembeli yang bawel" katanya kemudian kepada teman mengobrolnya itu. Betulkah pembeli itu bawel? Bagaimana jika dia yang menjadi pembeli? Dan tidakkah, jika dalam situasi yang lain, saat dia hanya duduk menunggu dan tak melakukan apapun, pembeli yang sama datang untuk membeli. Apakah pembeli tersebut tetap dianggapnya bawel? Atau dia malah merasa senang karena ada yang dia layani?
Maka demikian pula kehidupan kita ini. Banyak masalah yang terjadi, yang kita anggap akibat orang lain, sesungguhnya justru karena suasana hati kita sendiri saat itu. Memang, jauh lebih mudah untuk menyalahkan orang lain. Jauh lebih mudah untuk menganggap persoalan terjadi karena orang lain. Tetapi bila kita mampu untuk berpikir kembali, apa yang terjadi sesungguhnya karena kondisi kita sendiri yang membuat masalah terjadi. Dan dari persoalan yang sederhana, dari masalah yang sama sekali tidak terkait langsung dengan diri suami istri tadi, pertengkaran terjadi. Dari ketidak-sabaran teman yang sedang asyik ngobrol untuk melanjutkan perbincangannya, sang pembeli itupun menjadi sasaran omelannya.
Hidup memang penuh dilema. Dilema karena, kita senatiasa hanya melihat satu kejadian dari anggapan kita saja yang belum tentu sama dengan anggapan orang lain. Memang tidak mudah untuk melihat satu persoalan dari dua sisi, dari dua sudut pandang yang berbeda, terutama jika kita sendiri yang mengalaminya. Ada perasaan yang dominan bermain sehingga menutupi pikiran jernih kita. Tetapi percayalah, jika kita bersedia untuk mundur sejenak, meninjau kondisi dan situasi kita saat itu, mungkin kita bisa mencegah banyak persoalan yang seharusnya memang tidak terjadi. Seharusnya tidak terjadi.