Monday, February 29, 2016

Putih Abu-Abu

Sebenarnya, gua bingung apa yang mau gua bahas. Apakah kisah serunya sekolah berseragam pituh abu-abu? Atau ngebahas kelucuan, kekonyolan, kegokilan, bahkan keedanan gua waktu sekolah berseragam putih abu-abu? Entahlah, dengan tujuan yang gak jelas ini jari-jari lentik gua terus saja menekan papan keyword di smartphone gua.

Yups, memang sulit di pungkiri bahwa kisah masa remaja kita (kayaknya) begitu indah semasa masih berseragam putih abu-abu. Beda ketika kita masih berseragam putih biru. Apalagi putih merah. Gak seru. Gak asyik. Dan gak semanis ketika kita berseragam putih abu-abu.

Ngebahas apa sih loe ismi?!!

Oke kita lanjut, makan gorengannya. Sambil makan gorengan, kita lanjutkan lagi ngebahas tema putih abu-abu nya.

Saturday, February 27, 2016

Maafkan Aku, Sayang...

“Assalaamu’alaikum…!” Ucapnya lirih saat memasuki rumah. Tak ada orang yang menjawab salamnya. Ia tahu istri dan anak-anaknya pasti sudah tidur.
"Biar malaikat yang menjawab salamku,” begitu pikirnya.

Melewati ruang tamu yang temaram, dia menuju ruang kerjanya. Diletakkannya tas, ponsel dan kunci-kunci di meja kerja. Setelah itu, barulah ia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.

Sejauh ini, tidak ada satu orang pun anggota keluarga yang terbangun. Rupanya semua tertidur pulas. Segera ia beranjak menuju kamar tidur. Pelan-pelan dibukanya pintu kamar, ia tidak ingin mengganggu tidur istrinya. Benar saja istrinya tidak terbangun, tidak menyadari kehadirannya.

Kemudian Amin duduk di pinggir tempat tidur. Dipandanginya dalam-dalam wajah Aminah, istrinya. Amin segera teringat perkataan almarhum kakeknya, dulu sebelum dia menikah.

Kakeknya mengatakan, jika kamu sudah menikah nanti, jangan berharap kamu punya istri yang sama persis dengan maumu. Karena kamu pun juga tidak sama persis dengan maunya. Jangan pula berharap mempunyai istri yang punya karakter sama seperti dirimu. Karena suami istri adalah dua orang yang berbeda. Bukan untuk disamakan tapi untuk saling melengkapi. Jika suatu saat ada yang tidak berkenan di hatimu, atau kamu merasa jengkel, marah, dan perasaan tidak enak yang lainnya, maka lihatlah ketika istrimu tidur….

“Kenapa Kek, kok waktu dia tidur?” tanya Amin kala itu.
“Nanti kamu akan tahu sendiri,” jawab kakeknya singkat.

Waktu itu, Amin tidak sepenuhnya memahami maksud kakeknya, tapi ia tidak bertanya lebih lanjut, karena kakeknya sudah mengisyaratkan untuk membuktikannya sendiri.

Malam ini, ia baru mulai memahaminya. Malam ini, ia menatap wajah istrinya lekat-lekat. Semakin lama dipandangi wajah istrinya, semakin membuncah perasaan di dadanya. Wajah polos istrinya saat tidur benar-benar membuatnya terkesima. Raut muka tanpa polesan, tanpa ekspresi, tanpa kepura-puraan, tanpa dibuat-buat. Pancaran tulus dari kalbu. Memandanginya menyeruakkan berbagai macam perasaan. Ada rasa sayang, cinta, kasihan, haru, penuh harap dan entah perasaan apa lagi yang tidak bisa ia gambarkan dengan kata-kata.

Dalam batin, dia bergumam, “Wahai istriku, engkau dulu seorang gadis yang leluasa beraktivitas, banyak hal yang bisa kau perbuat dengan kemampuanmu. Aku yang menjadikanmu seorang istri. Menambahkan kewajiban yang tidak sedikit. Memberikanmu banyak batasan, mengaturmu dengan banyak aturan. Dan aku pula yang menjadikanmu seorang ibu. Menimpakan tanggung jawab yang tidak ringan. Mengambil hampir semua waktumu untuk aku dan anak-anakku. Wahai istriku, engkau yang dulu bisa melenggang kemanapun tanpa beban, aku yang memberikan beban di tanganmu, dipundakmu, untuk mengurus keperluanku, guna merawat anak-anakku, juga memelihara rumahku."
"Kau relakan waktu dan tenagamu melayaniku dan menyiapkan keperluanku. Kau ikhlaskan rahimmu untuk mengandung anak-anakku, kau tanggalkan segala atributmu untuk menjadi pengasuh anak-anakku, kau buang egomu untuk menaatiku, kau campakkan perasaanmu untuk mematuhiku."
"Wahai istriku, di kala susah, kau setia mendampingiku. Ketika sulit, kau tegar di sampingku. Saat sedih, kau pelipur laraku. Dalam lesu, kau penyemangat jiwaku. Bila gundah, kau penyejuk hatiku. Kala bimbang, kau penguat tekadku. Jika lupa, kau yang mengingatkanku. Ketika salah, kau yang menasehatiku."
"Wahai istriku, telah sekian lama engkau mendampingiku, kehadiranmu membuatku menjadi sempurna sebagai laki-laki. Lalu, atas dasar apa aku harus kecewa padamu? Dengan alasan apa aku perlu marah padamu? Andai kau punya kesalahan atau kekurangan, semuanya itu tidak cukup bagiku untuk membuatmu menitikkan airmata."
"Akulah yang harus membimbingmu. Aku adalah imammu, jika kau melakukan kesalahan, akulah yang harus dipersalahkan karena tidak mampu mengarahkanmu. Jika ada kekurangan pada dirimu, itu bukanlah hal yang perlu dijadikan masalah. Karena kau insan, bukan malaikat."
"Maafkan aku istriku, kaupun akan kumaafkan jika punya kesalahan. Mari kita bersama-sama untuk membawa bahtera rumah tangga ini hingga berlabuh di pantai nan indah, dengan hamparan keridhoan Allah azza wa jalla. Segala puji hanya untuk Allah azza wa jalla yang telah memberikanmu sebagai jodohku.”

Tanpa terasa air mata Amin menetes deras di kedua pipinya. Dadanya terasa sesak menahan isak tangis. Segera ia berbaring di sisi istrinya pelan-pelan. Tak lama kemudian ia pun terlelap.

***

Jam dinding di ruang tengah berdentang dua kali. Aminah, istri Amin, terperanjat.
“Astaghfirullaah, sudah jam dua?”

Dilihatnya sang suami telah pulas di sampingnya. Pelan-pelan ia duduk, sambil memandangi wajah sang suami yang tampak kelelahan.

“Kasihan suamiku, aku tidak tahu kedatangannya. Hari ini aku benar-benar capek, sampai-sampai nggak mendengar apa-apa. Sudah makan apa belum ya dia?” gumamnya dalam hati.

Mau dibangunkan nggak tega, akhirnya cuma dipandangi saja. Semakin lama dipandang, semakin terasa getar di dadanya. Perasaan yang campur aduk, tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, hanya hatinya yang bicara.

“Wahai suamiku, aku telah memilihmu untuk menjadi imamku. Aku telah yakin bahwa engkaulah yang terbaik untuk menjadi bapak dari anak-anakku. Begitu besar harapan kusandarkan padamu. Begitu banyak tanggungjawab kupikulkan di pundakmu."
“Wahai suamiku, ketika aku sendiri kau datang menghampiriku. Saat aku lemah, kau ulurkan tanganmu menuntunku. Dalam duka, kau sediakan dadamu untuk merengkuhku. Dengan segala kemampuanmu, kau selalu ingin melindungiku."
“Wahai suamiku, tidak kenal lelah kau berusaha membahagiakanku. Tidak kenal waktu kau tuntaskan tugasmu. Sulit dan beratnya mencari nafkah yang halal tidak menyurutkan langkahmu. Bahkan sering kau lupa memperhatikan dirimu sendiri, demi aku dan anak-anak."
“Lalu, atas dasar apa aku tidak berterimakasih padamu, dengan alasan apa aku tidak berbakti padamu? Seberapapun materi yang kau berikan, itu hasil perjuanganmu, buah dari jihadmu. Jika kau belum sepandai da’i dalam menasehatiku, tapi kesungguhanmu beramal shaleh membanggakanku. Tekadmu untuk mengajakku dan anak-anak istiqomah di jalan Allah azza wa jalla serta membahagiakanku."
“Maafkan aku wahai suamiku, akupun akan memaafkan kesalahanmu. Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah azza wa jalla yang telah mengirimmu menjadi imamku. Aku akan taat padamu untuk mentaati Allah azza wa jalla. Aku akan patuh kepadamu untuk menjemput ridho-Nya.”

Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrota’ayun waj’alna lil muttaqina imama.

[Artikel ini disadur dari grup WA Mu’amalah Syar’iyyah dengan beberapa perubahan]

Friday, February 26, 2016

Teman Satu Kontrakan

Selama gue kerja di Jakarta, gue ngontrak gak jauh dari kantor gue. Dan untuk meringankan biaya hidup di kota perantauan, gue ngontrak bareng sama temen kantor gue. Bukan temen kerja. Bukan juga temen maen. Apalagi temen tidur. Hiiiiii.... Jadi takut. Apalagi sekarang lagi banyak syndrom LGBT. Astagfirullah.

Temen gue ini (kalo menurut pengamatan gue, otaknya belum selesai -baru jadi setengah-) dan hebohnya minta ampun. Kayaknya waktu dia kecil, dia gak di sekolahin di TK. Atau gak pernah mainin bongkar pasang. Mungkin dia pernah maen bongkar pasang. Bongkarnya bisa, pasangnya lagi berantakan.

Gimana enggak coba, masa untuk orang seumuran bangkotan kayak gitu masih belum bisa naro barang pada tempatnya. Naro barang asal clek aja. Terus numpuk-numpukin barang gak karuan.

Lucunya lagi, dia takut banget sama tikus. Lebih tepatnya curut. Hadeuuuhhhh.... Gak cowok banget dech. Masa takut sama curut. Yaa... Paling enggak takut sama kecoa terbang kek.

Yang bikin parah lagi, temen gue (selain otaknya belum selesai dan takut sama curut) kalo lagi iseng di kamar dia suka nyanyi-nyanyi sendiri gitu. Ini yang paling parah. Parah banget. Setelah dia stel lagu yang ada di laptopnya, dia mulai bergumam ngikutin irama lagu.

Hhhmmmmm.... Hhhhmmmm... Hmmmm... Hhhhmmmmmmm.... Hhhmmmmmmmmmmmmm... (mungkin maksudnya : oooh tuhan, untuk kali ini saja beri aku kesempatan).

Suara gumamannya, fals banget. Gak sedikitpun mirip kayak suaranya Iwan Fals. Kalo dah bosen bergumam-ria-dengan-suara-fals-nya, dia mulai nyanyi ngikutin irama lagu. Dengan suara fals juga tentunya. Dan yang bikin tambah kesel, dia kalo dah mulai bosen nyanyi dengan bergumam dan nyanyi-nyanyi gak jelas, dia ganti dengan siulan. Fals juga.

Gak ada yang betul sama temen kontrakan gue. Sepertinya, dia harus segera di body repair.

_Bekasi, dimalam yang dingin ditemani siulan burung ciblek yang gak jelas.

Tokoh dan Peran Asmuni

Seorang pemuda desa yang sama seperti gua, menjadi perantau di kota orang dan sebagai kuli di perusahaan orang. Kami satu tempat kerjaan. Masuk kerjanya duluan dia, so dia adalah senior gua. Orangnya baik hati dan tidak sombong. Dan juga pintar. Tapi hanya otak kanannya aja. Makanya dia jago banget kalo disuruh ngapalin sesuatu. Tapi enggak dengan otak kirinya. Makanya dia gak jago dalam berkreativitas.

Karena kepandaiannya dalam menghafal, dia jago banget berbahasa korea. Mungkin yang jadi motivasi dia untuk belajar bahasa korea adalah JKT48. Dia nge-fans banget. Yang bikin kagumnya adalah, dia gak pernah sama sekali kursus bahasa korea. Hanya bermodalkan kamus Indonesia-Korea dan lagu-lagu dari Psy, JKT48, dan artis korea lainnya dia jadi jago banget dalam berbahasa korea. Ejaannya, pelafalannya, intonasinya, dan dialek nya pun udah mahir banget.

Ckckckckck... Suara cicek nemenin gua bikin tulisan ini.

Thursday, February 25, 2016

Nulis apa ya?!!

Nah, ini dia yang selalu bikin gue bingung. Kalo otak kiri gue lagi on fire, biasanya jari-jari manis gue gatel pengen ketak-ketik tulisan. Biar kayak orang-orang. Kekinian. Kayak Raditya Dika, dia nulis pengalaman pribadinya waktu kuliah di Adelaide kedalam blog. Atau kayak komika jebolan StandUp Comedy, Fico. Atau gak Ernest. Mereka nulis materi lawakannya dan lalu di share di blog masing-masing.

Jujur, gue suka banget baca. Apalagi baca tulisannya mereka (Radit, Fico, Ernest) suka bikin gue pengen ikutan nulis. Toh, yang mereka tulis juga gak jauh-jauh amat dari perjalanan hidupnya dia masing-masing. Berbekal cita-cita kecil gue (waktu itu), pengen nulis dan bisa di share di blog, akhirnya gue belajar nge-blog. Walaupun template blog gue belum secantik tampilan template-nya punya mereka (Radit, Fico, Ernest), tapi gue dah mulai merangkak maju menggapai cita-cita (waktu itu) gue.

Gue akhirnya nulis beberapa kata yang tersusun rapi membentuk beberapa kalimat dan dikumpulkan menjadi sebuah paragraf.
Alhasil, tulisan gue.... Ancuuuuur!!!

Gue baca ulang, tulisannya rapi banget kayak pembukaan UUD 1945. Isinya, ngalor ngidul kayak mie goreng dingin, gak jelas pangkal dan ujungnya. Persis kayak tulisan yang sekarang gue tulis, ancur banget khan?!!

Gue mau nulis apa ya??? Masa gak ada bahan yang bisa gua tulis. Ya udah, nulisnya entar aja dech. Nunggu otak kiri gue on fire lagi. Nunggu bahan yang enak buat gua tulis.

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html